Monday, July 30, 2012

Merry Riana.


Berbekal tekad, kemauan serta kerja keras, Merry Riana dalam usia masih muda bisa mewujudkan mimpinya menjadi kenyataan, pengusaha sukses. Atas buah kerja kerasnya, wanita kelahiran Jakarta, 29 Mei 1980 ini,  dinobatkan sebagai salah satu wanita paling sukses dan inspiratif oleh majalah bulanan Inspirational Woman Magazine (2011). Menjadi miliader muda dan mapan dalam finansial tidak membuat wanita pemilik kulit putih ini, lekas berpuas diri. Sebagai motivator, ia berhasrat untuk membagi pengalamannya kepada orang lain dalam meraih kesuksesan.
 Mimpi, menumbuhkan tujuan dan semangat hidup Merry Riana. Dengan mimpi, semangat dan kerja keras, ia menjadi miliader di usia muda. Saat usianya menginjak 20 tahun, Merry punya mimpi. Dia ingin sebelum berusia 30 tahun sudah mendapatkan "kebebasan" finansial.

Mimpi itu terwujud. Hanya setahun setelah dia bekerja, tepatnya di usia 23 tahun. Merry sudah berpenghasilan 220.000 dollar Singapura. Kira-kira sekitar Rp 1,5 milar dengan nilai tukar saat ini. Setahun berikutnya pada tahun 2004, dia mendirikan perusahaan Merry Riana Organization (MRO). Dua tahun berikutnya di usia 26 tahun, penghasilan totalnya mencapai 1 juta dollar Singapura - sekitar Rp 7 miliar. Popularitas Merry melesat, dia banyak diberitakan media massa di Singapura sebagai miliader di usia muda. Lho, Singapura?
Meski lahir di Jakarta dari orangtua yang warga Indonesia, Merry mengawali karier sebagai konsultan keuangan, pengusaha dan menjadi motivator di Singapura. Sejak lulus SMA, anak pertama dari tiga bersaudara ini "mengungsi" ke negeri Singa.
Ketika bertemu di Central Park, Jakarta (10/7), beberapa jam sebelum kembali ke Singapura, Merry bercerita sambil mengingat kembali perjalanan hidupnya. Pekan lalu, selama tiga hari, Merry ada di Indonesia untuk menjadi pembicara atas undangan sebuah perusahaan di Semarang, Jawa Tengah. "Ya, sudah lama juga saya di Singapura. Meski rencana kembali ke Indonesia belum terlaksana, setidaknya pada tahun ini saya lebih sering datang ke Indonesia karena lebih banyak ke giatan yang dilaksanakan di sini, " kata Merry.
Kerusuhan 1998
Perjalanan hidup Merry di Singapura berawal ketika terjadi kerusuhan besa di Jakarta tahun 1998. Cita-cita untuk kuliah di Jurusan Teknik Elektro Universitas Trisakti buyar karena kejadian tersebut. Orangtua Merry kemudian memutuskan mengirimkan putrinya ke Singapura dengan alasan keselamatan. "Waktu itu rasanya seperti ada dalam film perang. Saya diminta pergi agar selamat, " kata Merry merasakan kesedihatan yang tejadi 13 tahun yang lalu.
Tanpa persiapan yang memadai untuk kuliah di luar negeri, Merry sempat gagal dalam tes bahasa Inggris di Nanyang Tecnological University. Tanpa persiapan bekal dana yang memadai pula, Merry meminjam dana dari pemerintah Singapura. Tak hanya untuk biaya kuliah, tetapi juga untuk hidup sehari-hari. "Utang saya totalnya 40.000 dollar Singapura, " kata Merry. Dengan uang saku hanya 10 dollar per minggu, hidupnya harus superhemat. Untuk makan, misalnya, Merry lebih sering makan roti atau mi instan atau bahkan berpuasa.
Ketika menyadari hidupnya tak berubah meski sudah memasuki tahun kedua kuliah, Merry mulai membangun mimpi. "Saya membuat resolusi ketika ulang tahun ke-20. Saya harus punya kebebasa finansial sebelum usia 30 tahun. Dengan kata lain harus jadi orang sukses. The lowest point in my life membuat saya ingin mewujudkan mimpi tersebut, " ujar Merry.
Meski sudah ada mimpi dan di dukung semangat. Merry belum menentukan cara mewujudkannya. Pikirannya baru terbuka setelah magang di perusahaan produsen semikonduktor.
Dari pengalaman ini, Merry melakukan hitung-hitungan, seandainya dia menjadi karyawan seusai kuliah. "Darhitungan tersebut, ternyata saya baru bisa melunasi utang dalam waktu 10 tahun, tanpa tabungan. Kalau begitu caranya, mimpi saya saya tak akan terwujud, " kata Merry yang akhirnya memutuskan memilih jalan untuk berwirausaha untuk mencapai mimpinya.
Karena tidak punya latar belakang pendidikan dan pengalaman bisnis, Merry mengumpulkan informasi dengan mengikuti berbagai seminar dan melibatkan diri dalam organisasi kemahasiswaan yang berhubungan dengan dunia bisnis. Merry juga mencoba praktik dengan terjun ke multi level marketing meski akhirnya rugi 200 dollar. Merry bahkan pernah kehilangan 10.000 dollar ketika memutar uangnya di bisnis saham. Mentalnya sempat jatuh meski dalam kondisi tersebut masih bisa menyelesaikan kuliah.
Tamat kuliah, barulah Merry mempersiapkan diri dengan matang. Belajar dari pengalaman para pengusaha sukses, dia memulai dari sektor penjualan di bidang jasa keuangan. Kerja kerasnya menjual berbagai produk keuangan, seperti tabungan, asuransi, dan kartu kredit hingga 14 jam sehari mulai membuahkan hasil. Dalam waktu enam bulan setelah bekerja, Merry bisa melunasi utang pada Pemerintah Singapura. Tunai.
Kesuksesan lainpun datang karena kinerjanya. Merry bisa membentuk tim sendiri hingga akhirnya mendirikan MRO. Dengan penghasilan total satu juta dollar Singapura di usia 26 tahun, ambisi Merry saat berusia 20 tahun terwujud.
Berbagi
Namun, seiring usia yang kian dewasa, menghasilkan uang hingga jutaan dollar bukan satu-satunya tujuan hidup Merry. Pengagum Oprah Winfrey ini lebih menikmati hidup ketika orang lain memperoleh kesuksesan seperti dia. Pengalaman meraih sukses dibagikan kepada oranglain dengan berbagai cara seperti menjadi pembicara di seminar, perusahaan, sekolah, serta melalui media jejaring sosial, media massa dan menulis buku.
Bersama timnya di MRO, Merry memiliki program permberdayaan perempuan anak-anak muda. Anggota timnya di lembaga ini bahkan tergolong muda, berusia 20-30 tahun. "Saya ingin menampung orang muda yang punya ambisi dan semangat seperti saya, " katanya.
Keinginannya untuk berbagi ini tak hanya dilakukan di Singapura. Pada ulang tahunnya ke-30, Mery membuat resolusi baru, yaitu memberi dampak positif pada satu juta orang di Asia, terutama di tanah kelahirannya di Indonesia.
Seperti MacGyver
Merry, yang sukses di jasa keuangan dan kian sibuk dengan kegiataannya menjadi motivator, pernah punya cita-cita lain. sewaktu kecil, anak sulung dari Suanto Sosrosaputro dan Lynda Sanian ini pernah punya keinginan untuk menjadi seperti sang ayah yang seorang insinyur eletro. "Waktu kecil, kalau ditanya mau jadi apa, saya selalu jawab ingin seperti papa. Saya senang melihat papa mengutak-atik peralatan eletkronika, seperti MacGyver, " kata Merry.
Cita-cita ini bahkan melekat hingga lulus SMA. Merry kuliah di Jurusan Teknik Elektro Nanyang Technological University setelah sebelumnya bercita-cita kuliah dengan jurusan yang sama di Universitas Trisakti. Namun, perjalanan hidup Merry berubah. Meski bisa meraih gelar insinyur dalam waktu empat tahun, ilmu elektro yang dikuasainya tak terpakai dalam kariernya.
"Paling-paling dipakari di rumah. Kalau TV atau kulkas rusak, saya masih bisa memperbaiki, he-he-he. Tetapi bukan berarti kuliah saya tidak berguna. Semua proses yang saya jalani selama kuliah telah membawa saya seperti sekarang ini, " kata Merry.  e-ti | hans
Sumber Harian Kompas, Minggu 17 Juli 2011 di bawah judul "Bermimpilah Seperti Merry | Penulis: Yulia Sapthiana
© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 21 Jul 2011  -  Pembaharuan terakhir 23 Feb 2012

No comments:

Post a Comment

About Me

My photo
SMP Muhammadiyah 2 Yogyakarta RSBI2013's Alumnus. Student of SMAN 4 Yogyakarta. ITB's Next Generation.